Beranda Berita DPRD Minta Jogja Tak Buru-Buru Buka Sekolah

DPRD Minta Jogja Tak Buru-Buru Buka Sekolah

4
0

DPRD Jogja mendorong pembelajaran daring dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) terus dilanjutkan. Pemkot Jogja diminta tidak terlalu terburu-buru untuk memulai pembelajaran tatap muka.

“Saya tegaskan saat ini [pembelajaran tatap muka] lebih baik ditunda dulu,” kata Ketua DPRD Jogja, Danang Rudyatmoko dalam acara Ngopi Bareng Wakil Rakyat: Permasalahan dan Solusi Pembelajaran di Masa Pandemi yang digelar Harian Jogja, Sabtu (24/4/2021).

Danang mengatakan saat ini vaksinasi Covid-19 untuk guru dan tenaga kependidikan belum selesai dilakukan Pemerintah Kota Jogja. Selain itu, yang lebih penting, kata dia bukan hanya guru dan tenaga kependidikannya yang divaksin. Namun siswa dan keluarga siswa juga harus divaksin karena rawan terjadi penularan.

Persoalan lain, kata dia, interaksi sosial untuk pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) pasti tinggi. Mungkin jika di sekolah mereka bisa menjaga jarak untuk tidak berkerumun, namun di luar sekolah tidak ada yang bisa menjamin peserta didik untuk tidak berkerumun dengan teman-temannya. Danang tidak ingin kasus yang terjadi di India terjadi di Indonesia akibat kelengahan dan merasa sudah aman.

“Meski tenaga pengajar sudah divaksin tapi interaksi sosial lebih sosial daripada yang lainnya. Kalau siswa SMA sudah mungkin sudah bisa nolak [untuk berkerumun], kalau SD dan SMP belum bisa nolak,” ujar Danang.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini meminta dinas pendidikan, guru dan tenaga kependidikan bisa berinovasi dengan berbagai kreasi dalam menyampaikan materi pembelajaran jarak jauh agar tidak membosankan bagi peserta didik. Pandemi mengajarkan semua pihak untuk berinovasi dalam segala hal termasuk metode transfer ilmu dari guru pada siswa.

Untuk inovasi mengajar, pihaknya sempat kagum dengan salah satu daerah di Jawa Tengah yang menggelar lomba inovasi cara mengajar guru di masa pandemi sebagai cara mencari metode yang pas yang diajarkan kepada siswa supaya siswa tidak bosan dalam belajar. Mungkin hal tersebut bisa dilakukan oleh Pemerintah Kota Jogja.

“Untuk pendidikan daring agar tetap dilanjutkan dengan inovasi lebih bisa diterima peserta didik,” kata Danang.

Senada disampaikan oleh Anggota Komisi D DPRD Jogja, Muhammad Ali Fahmi. Menurut dia, yang penting saat semua pihak fokus pada penanganan kesehatan dan keselamatan, meski pertumbuhan ekonomi juga penting. Namun paling utama adalah kesehatan dan keselamatan.

Dia mengatakan sebelum pembelajaran tatap muka harus diselesaikan dulu sarana dan prasarana, vaksin guru dan karyawan. “Siswa dan keluarga belum divaksin ini menjadi bagian dari dunia pendidikan juga satu kesatuan sehingga hanya gurunya saja, ini jadi masalah. Siswa berkumpul dengan temannya dilarang kumpul di luar tidak bisa terkendalikan,” kata Fahmi.

Dia merekomendasikan sebaiknya pembelajaran tatap muka saat ini ditunda terlebih dahulu sampai situasi normal atau paling tidak 65% penduduk kota Jogja sudah tervaksin. Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengatakan vaksinasi yang dicapai baru seperempat penduduk Jogja yang divaksin. Itu pun bukan semua warga Jogja, melainkan warga luar yang berkegiatan di Jogja.

“Pembelajaran tatap muka nanti dulu lah. PR vaksin masih belum selesai, vaksinasi lansia belum semua, bahkan belum capai 50 persen, anak juga belum. Tahapan ini perlu di lalui dulu,” ujar Fahmi.

Di tengah penularan Covid-19 yang masih belum terkendali ini, pembelajaran jarak jauh masih paling ideal untuk mengurangi penularan Covid-19. Pembelajaran juga bisa dilakukan dengan berbagai inovasi untuk menghilangkan kejenuhan. Misalnya yang presentasi tidak hanya guru, namun juga siswa presentasi secara bergantian yang disaksikan oleh teman sekelas secara daring.

Selain ketua dan anggota DPRD Jogja, Danang Rudyatmoko dan Muhammad Ali Fahmi, yang menjadi narasumber dalam Ngopi Bareng Wakil Rakyat ini adalah Raafi Hanaan. Ketua OSIS SMAN 3 Jogja ini mengatakan sebenarnya belajar jarak jauh cukup membosankan dibanding belajar tatap muka karena dengan tatap muka dirinya bisa langsung mendengarkan penjelasan dan bisa menanyakan langsung ketika ada materi yang belum dimengerti.

Namun karena kondisi pandemi mau tidak mau pembelajaran jarak jauh harus dilakukan. Menurut dia, selama proses belajar daring tidak semua guru cakap dalam menyampaikan materi di depan layar. “Ada guru muda, ada guru sudah sepuh ketika pembelajaran online enggak rata. Saya sebagai siswa SMA bisa memahami. Guru sudah sepuh alami kebingungan harus adaptasi lagi,” kata Raafi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here