Beranda Berita Kampanye Pernikahan Dini Harus Dihentikan

Kampanye Pernikahan Dini Harus Dihentikan

36
0

Beredar unggahan jasa penyelenggara pernikahan atau WO bernama Aisha Weddings khusus untuk pernikahan dini (usia 12–21), pernikahan siri, dan poligami.

“Semua wanita muslim ingin bertakwa dan taat kepada Allah SWT dan suaminya. Untuk berkenan di mata Allah dan suami, Anda harus menikah pada usia 12–21 tahun dan tidak lebih,” tulis Aisha Weddings dalam situsnya.

Menanggapi unggahan itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Diah Pitaloka, menyayangkan adanya kampanye pernikahan dini berkedok wedding organizer (WO) yang menawarkan paket pernikahan dini di sebuah website.

Terkait WO yang kampanyekan pernikahan dini, Ia menilai ini telah menimbulkan keresahan di masyarakat, terutama kaum ibu dan perempuan pada umumnya.

“Ini sangat menimbulkan keresahan di masyarakat, saya banyak terima aduan dan keluhan dari orang tua terhadap adanya website tersebut,” ujar Diah

Untuk itu, ia mendesak kampanye pernikahan dini harus segera dihentikan. Menurutnya, pernikahan dini bisa berdampak negatif terhadap kondisi istri, lantaran belum memiliki bekal pengalaman dan pemahaman yang cukup untuk membina pernikahan.

Adanya situs atau website WO yang menawarkan paket pernikahan dini ini juga merupakan jalan mundur atas perjuangan hak-hak perempuan. Menurutnya, banyak perempuan yang akhirnya kecewa dan khawatir akan adanya situs tersebut.

“Menurut saya ini merupakan jalan mundur dari yang selama ini kita perjuangkan akan hak perempuan. Banyak perempuan yang khawatir, karena kita tahu perempuan dirugikan dari pernikahan dini,” ucap Diah yang juga Ketua Presidium Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI).

Selain menawarkan paket pernikahan dini usia 12 sampai 21 tahun, WO tersebut juga menawarkan paket nikah siri dan poligami. Diah tegas menentang hal tersebut, karena pernikahan siri tidak legal sesuai hukum.

“WO ini jugakan mengajak perempuan untuk menikah siri, padahal menikah siri itu perempuan statusnya berada di bawah hukum. Jelas kami menentang dengan tegas,” imbuh Diah.

Politisi PDI Perjuangan ini mengajak para orang tua untuk menambah pengetahuan dan membaca informasi soal dampak negatif pernikahan dini. Hal ini menghindari adanya peran orang tua yang justru menikahkan anaknya di usia muda.

“Saya harap para orang tua membuka mata agar tidak menikahkan anaknya di bawah umur karena dampak yang ditimbulkan banyak sekali negatifnya,” tambah Diah.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati mengatakan, sudah melaporkan WO pernikahan dini tersebut ke Mabes Polri. Pelaporan tersebut berdasarkan banyaknya aduan dari masyarakat yang merasa resah.
“Intinya masyarakat resah. Kami sudah melaporkan ke Kanit PPA (Kerja Unit Pelayanan Perempuan dan Anak) di Mabes Polri. Mereka akan melakukan pengkajian dan mungkin memanggil pihak WO,” tutur Rita.

Diketahui, beredar unggahan jasa penyelenggara pernikahan atau WO bernama Aisha Weddings khusus untuk pernikahan dini (usia 12–21), pernikahan siri, dan poligami. Padahal, pemerintah menetapkan usia minimal menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan perempuan.

“Semua wanita muslim ingin bertakwa dan taat kepada Allah SWT dan suaminya. Untuk berkenan di mata Allah dan suami, Anda harus menikah pada usia 12–21 tahun dan tidak lebih,” tulis Aisha Weddings dalam situsnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here