Beranda Berita PDIP Heran JK Bicara soal ‘Kekosongan Kepemimpinan’ saat Bahas Habib Rizieq

PDIP Heran JK Bicara soal ‘Kekosongan Kepemimpinan’ saat Bahas Habib Rizieq

69
0

PDIP mengaku heran dengan pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) yang bicara mengenai kekosongan kepemimpinan saat membahas fenomena Habib Rizieq Syihab. Kenapa?

“Saya agak heran juga bila mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut bahwa meluasnya permasalahan terkait pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab, disebabkan karena adanya kekosongan pemimpin yang mampu menyerap aspirasi masyarakat,” kata politikus PDIP, TB Hasanuddin

Hasanuddin lantas bicara mengenai konteks aspirasi yang dimaksud JK. Menurut TB, aspirasi yang pantas didengar itu harus sesuai dengan pancasila. Jika aspirasi berlawanan dengan pancasila maka pemerintah seharusnya menolak aspirasi itu.

“Perlu digarisbawahi bangsa ini telah menyepakati dasar negara kita adalah Pancasila, yang menjunjung tinggi kebhinekaan, azas kebersamaan dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa,” bebernya.

“Tapi kalau aspirasi yang disampaikan tidak sesuai dengan Pancasila dan berlawanan dengan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa, bukan berarti pemimpin tak mau menyerap aspirasi tapi memang ditolak dan tak ada yang mau menerimanya,” imbuh TB.

Dia kemudian mencontohkan misalkan ada aspirasi kelompok yang ingin mengganti dasar negara Pancasila dengan khilafah atau mungkin ada aspirasi kelompok separatis yang ingin keluar dari NKRI. Aspirasi itu menurut dia otomatis harus ditolak oleh pemerintah.

“Saya kira tidak, karena itu sama saja dengan memecah belah bangsa Indonesia. Sama dengan menghancurkan tegaknya NKRI,” tegasnya

Selain Hasanuddin, Politikus PDIP lainnya, Hendrawan Supratikno justru menyarankan Habib Rizieq membuat partai politik. Menurut Hendrawan apa yang dikatakan JK sudah tepat yakni Habib Rizieq mengisi kekosongan di sistem demokrasi.

“Inti dari argumen Pak JK, HRS mengisi bagian yang kosong dalam peta keterwakilan dalam sistem demokrasi, ada benarnya. Itu yang berkali-kali saya sampaikan, agar FPI mendirikan partai politik, untuk menguji seberapa besar ceruk pasar yang diwakilinya tersebut. Hipotesis saya, ceruk pasar yang mewakili ceruk ‘ekstrem kanan’ tidak seberapa besar. Fenomena ‘outlier’ di mana-mana bukan fenomena arus besar dan tidak signifikan,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here