Beranda Berita Resesi Ekonomi Bukan Momok Menakutkan

Resesi Ekonomi Bukan Momok Menakutkan

84
0

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memperkirakan pada kuartal II pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali minus di kisaran -2,9 persen hingga -1 persen. Jika hal itu terjadi, secara teknis Indonesia akan resmi masuk dalam jurang resesi karena dalam dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi terkontraksi.

Sebelumnya, di kuartal kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga minus 5,32 persen.

“Negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal III. Mungkin masih berlangsung untuk kuartal IV, tapi kita upayakan bisa mendekati 0 atau positif,” kata Ani, sapaan akrab Sri Mulyani

Ia juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2020 secara keseluruhan masih minus 1,7 persen sampai minus 0,6 persen.

Meski demikian, Ia menekankan semua proyeksi masih tergantung pada perkembangan Covid-19 dan bagaimana pandemi akan mempengaruhi aktivitas perekonomian. Dalam hal ini, bukan hanya Indonesia yang mengalami resesi, negara maju lainnya pun turut mengalaminya seperti Amerika Serikat, Inggris, hingga Negeri Jiran Malaysia dan Singapura akan bernasib sama.

“Mereka mengalami negatif atas pertumbuhan ekonominya pada kuartal III-2020, akibat dampak Covid-19,” ujar Ani.

Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir memperkirakan, stabilitas ekonomi tidak akan terjadi dalam waktu dekat, meskipun World Bank dan Asian Development Bank (ADB) memprediksi pertumbuhan dalam negeri akan positif pada 2021.

“Namun kami meyakini stabilitas ekonomi baru akan benar-benar terjadi pada kuartal I-2022,” kata Erick.

Politisi PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno mengatakan bahwa dalam dinamika ekonomi pasar, resesi adalah persoalan biasa. Naik dan turun siklus tersebut bukan menjadi fokus kajian khusus. Ha tersebut dikenal dengan nama disrupsi pasar, konjungtur, bullist (banteng menerjang) dan bearish (beruang mengaum).

Menurut Hendrawan, Pemerintah perlu konsisten mengambil kebijakan antisiklis. Ia mengibaratkan, pedal gas ditekan saat ekonomi melambat, pedal rem dimainkan saat ekonomi kepanasan.

“Di tengah pandemi, kelincahan dan kecerdikan memainkan pedal gas dan rem secara konsisten, menentukan kualitas hasil,” tuturnya.

Menurutnya, langkah penyelamatan ekonomi melalui Program Ekonomi Nasional (PEN) merupakan hal yang tepat, tinggal impementasinya saja yang masih membutuhkan akurasi data, koordinasi birokrasi lintasfungsi dan integritas.

“Yang utama, memelihara daya beli masyarakat. Ketersediaan pangan dan akses masyarakat miskin terhadap jaring pengaman sosial juga wajib diamankan,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here