Beranda Berita Jangan Anggap Pilkada Sebagai Perang Badar, Apalagi Membawa Agama

Jangan Anggap Pilkada Sebagai Perang Badar, Apalagi Membawa Agama

38
0

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengingatkan pilkada merupakan konsistensi biasa dalam sistem demokrasi Indonesia. Untuk itu, Hasto tidak ingin ada pihak yang menganggap pilkada seperti perang badar dengan mengerahkan cara untu memperoleh kemenangan.

“Karena itu perlu diluruskan jangan sampai ada analogi salah pemilu sebagai sebuah perang, perang badar dan sebagainya. Jangan dianggap pemilu termasuk pemilukada ini sebagai sebuah perang hidup mati.

Bagaimana kita menghadapi negara-negara lain, ada sense of patriotism yang terus menerus harus kita bangun,” kata Hasto.

Selain itu, Hasto pun tak ingin ada pihak yang membawa agama sebagai dalil perjuangan dalam pilkada. Dia mengatakan bahwa agama bertujuan untuk menebar kebaikan bagi seluruh elemen masyarakat.

“Apalagi membawa agama di dalam Pilkada sebagai dalil-dalil semangat juang dari para pendukungnya. Jadi, agama itu menebar kebaikan, agama itu menjadi kekuatan moral dan etis yang sangat penting bagi setiap warga bangsa. Nilai spiritualitas yang membebaskan,” ucap dia.

Untuk itu, Hasto mengatakan bahwa Sekolah Partai diadakan agar seluruh calon yang dapat memenangkan pilkada dengan cara yang beradab seperti menggunakan stratego gotong-royong dan pola komunikasi politik yang baik.

“Elektoral juga dikedepankan, transportasi partai tadi sudah dijelaskan bahwa dengan global reproduction of American Politics maka menjadi partai elektoral, mesin partai itu hanya untuk menang. Maka untuk menghindari itu kami menyelenggarakan sekolah partai,” ucap dia.

“Kami menyelenggarakan psikotes bagi seluruh kandidat kami adakan komitmen bagi seluruh kandidat, mereka harus menang dengan cara cara yang berkeadaban dengan sebuah strategi gotong royong, dengan komunikasi politik yang baik, dengan program yng mampu menarik pemilih untuk ikut serta,” sambungnya.

Terlebih, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri telah mengingatkan pilkada merupakan kontesasi lima tahunan yang harus dipersiapkan secara matang.

“Pemilu itu kontestasi kami diajarkan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri menang juga hanya 5 tahun, kalau menang, tetapi kalau kalah juga hanya 5 tahun. Kalau kalah kita perbaiki sendiri melalui komunikasi politik kaderisasi, dan ini hanya lima tahun,” tandas Hasto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here